Monday, October 01, 2007

cerita dari de mello

Sebuah kuil dibangun di suatu pulau, tiga kilometer jauhnya dari pantai.
Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng. Lonceng-lonceng yang besar,
lonceng-lonceng yang kecil, semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik
di dunia. Setiap kali angin bertiup atau taufan menderu, semua lonceng kuil
serentak berbunyi dan secara terpadu membangun sebuah simponi. Hati setiap
orang yang mendengarkannya terpesona.

Tetapi selama berabad-abad pulau itu tenggelam di dalam laut; demikian juga
kuil bersama dengan lonceng-loncengNya. Menurut cerita turun-temurun
lonceng-lonceng itu masih terus berbunyi. tanpa henti, dan dapat didengar
oleh setiap orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Tergerak oleh cerita ini, seorang pemuda menempuh perjalanan sejauh
beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk mendengarkan bunyi
lonceng-lonceng itu. Berhari-hari ia duduk di pantai, berhadapan dengan
tempat di mana kuil itu pernah berdiri, dan mendengarkan - mendengarkan
dengan penuh perhatian. Tetapi yang didengarnya hanyalah suara gelombang
laut yang memecah di tepi pantai. Ia berusaha mati-matian untuk menyisihkan
suara gelombang itu supaya dapat mendengar bunyi lonceng. Namun sia-sia.
Suara laut rupanya memenuhi alam raya.

Ia bertahan sampai berminggu-minggu. Ketika semangatnya mengendor, ia
mendengarkan orang tua-tua di kampung. Dengan terharu mereka menceritakan
kisah seribu lonceng dan kisah tentang mereka yang telah mendengarnya.
Dengan demikian ia semakin yakin bahwa kisah itu memang benar. Dan
semangatnya berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka ... tetapi
kemudian ia kecewa lagi, kalau usahanya selama berminggu-minggu ternyata
tidak menghasilkan apa-apa.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya. Barangkali ia tidak
ditakdirkan menjadi salah seorang yang beruntung dapat mendengar bunyi
lonceng-lonceng kuil itu. Mungkin juga legenda itu hanya omong kosong saja.
Lebih baik pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya.

Pada hari terakhir ia duduk di pantai pada tempat yang paling disayanginya.
Ia berpamitan kepada laut, langit, angin serta pohon-pohon kelapa. Ia
berbaring di atas pasir, memandang langit, mendengarkan suara laut. Pada
hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan
menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang
lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu
tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi.
Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.

Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya! Dentang bunyi satu lonceng
disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi ... dan
akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang
agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.

Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.

Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan dengan penuh perhatian.
Jangan menolaknya, jangan memikirkannya. Pandanglah saja. (Anthony de Melo)

1 comment:

Mas Didik said...

Membuka diri untuk melihat dan mendengar tanda-tanda :-)