Wednesday, October 17, 2007

Fake Plastic Trees by Radio Head



Her green plastic watering can
For her fake chinese rubber plant
In fake plastic earth.
That she bought from a rubber man
In a town full of rubber plants
Just to get rid of itself.
And it wears her out, it wears her out
It wears her out, it wears her out.

She lives with a broken man
A cracked polystyrene man
Who just crumbles and burns.
He used to do surgery
For girls in the eighties
But gravity always wins.
And it wears him out, it wears him out
It wears him out, it wears him out.

She looks like the real thing
She tastes like the real thing
My fake plastic love.
But I cant help the feeling
I could blow through the ceiling
If I just turn and run
And it wears me out, it wears me out
It wears me out, it wears me out.

And if I could be who you wanted
If I could be who you wanted,
All the time, all the time, ohhh... ohh...

kisah sang kupu kupu...

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.

Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap- sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.

Dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita.

Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan. Kita mungkin tidak akan pernah dapat "Terbang". Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan maha Penyayang. Kita memohon Kekuatan...Dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.

Kita memohon kebijakan...Dan Tuhan memberi kita Berbagai persoalan Hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.

Kita memohon kemakmuran...Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon Keteguhan Hati...Dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi.

Kita memohon Cinta...Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.

Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati. Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita.

Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan?

Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita.

Tetaplah berjuang...berusaha...dan berserah diri...

Jika itu yang terbaik maka pasti Tuhan akan memberikannya untuk kita.

Wednesday, October 03, 2007

kematian...?

Sungguh, kematian begitu indahnya..
Sudah tak ada lagi rasa yang menyayat, tangis dan rintihan, kelu dan kebisuan. Yang ada hanya diam dalam kelam, menanti alam yang menjembut raga. Kosong, tak berbentuk dan lugas tak terlindas.
Mati, sudah biasa..bahkan berkali dalam mimpi. Berjuta dalam rasa, tidak cuma sekali..tapi berkali-kali.
Ya, taburan bunga datang tak terduga, entah siapa yang turut berduka, entah siapa yang masih menyimpan rasa, tapi cuma dalam hitungan menit. Bunga melayu, luruh bersama terpaan angin diatas pusara, terbang bersama hembusan semberani sang nafas dunia.
Bukan kali ini saja, kematian berkali-kali..meski kehidupan hanya sekali. Berkali-kali…dengan cara yang sama.
Ya, taburan bunga datang tak terduga, meretas asa yang tergerus sukma. Merengkuh ajal kefanaan jiwa. Cuma semalam, tapi dalam sepanjang masa.
Bukan hanya sekali, tak hanya jatuh lalu ditindih, tapi diinjak lalu dibuang.
Mengapa harus datang “lagi” dengan kesenyapan yang kau punya!? Melongok, menyampaikan rasa lalu setelah kesenyapanmu kembali riuh, kau diam dan melangkah seakan tak ada apapun didetik yang lalu.
Mengapa harus singgah “lagi” kalau hanya untuk mencerca!? Tak perlu ada kata kalau sudah tak nyata, tak perlu sia-siakan waktu untuk berkeluh kalau hanya untuk meludahi.
Aku sudah biasa, sudah tidak heran dengan rasa. Bagimu cuma permainan, bagiku sebuah kenyamanan.
Entah, aku tak tau hitam putihnya lembaran itu, tak mengerti bait kata yang tertoreh indah, tak mengerti makna dibalik lara. Aku hanya menerka, turut merasa lalu terdiam, lelap dengan cerca.
Terima kasih. Aku sudah terbiasa…
Datang, tersenyum, berkisah lalu pergilah dengan cercaan. Aku sudah biasa…
Bukan orang sempurna....bukan manusia suci yang dikehendaki meski sekedar berbagi...
cukup dengan maki, tak perlu kau hempaspun sudah jatuh...
Cerita dan keluh kesah yang aku dengar hanya buaian, cukup aku dengar meski masih ingin peduli.
terima kasih, tengkiu...

Monday, October 01, 2007

Orang yang Tidak Pernah Miskin

Menjadi kaya, mungkin itu adalah impian banyak sekali orang. Entah itu kaya secara material, maupun kaya secara spiritual, apa lagi kaya kedua-duanya, ia sudah menjadi magnet dengan daya tarik yang demikian besar. Lebih dari delapan puluh persen energi manusia terkuras untuk meraih ini semua. Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan hampir seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya. Tidak ada satupun manusia waras yang bercita-cita untuk menjadi miskin.

Di tengah arus deras pencaharian seperti ini, dalam renungan-renungan keheningan kadang terpikir, adakah manusia yang tidak pernah miskin? Ya sejak lahir sampai dengan meninggal, ia tidak pernah mengalami kemiskinan. Kalau orang seperti itu ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya mencari orang-orang yang tidak pernah miskin ini. Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi. Entah di negeri sendiri, atau di negeri orang, sungguh teramat sulit menemukannya. Ada yang lahir serta besar di keluarga kaya secara materi, namun merasa diri paling miskin di dunia. Sebab, selalu membandingkan dirinya dengan orang yang lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh di keluarga yang kaya secara spiritual, tetapi menyesali kehidupan materinya yang serba kekurangan.

Ada jawaban yang sederhana dan mendasar mengenai kemiskinan ini, yaitu: "those who are good at enjoying life are not poor". Dengan kata lain, manusia yang tidak pernah miskin berkaitan dengan seberapa baik dan seberapa bisa ia menikmati dan mensyukuri hidupnya. Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri melekat dalam pada kehidupan seseorang, maka masuklah ia dalam kelompok yang tak pernah miskin.

Bagaimana bisa disebut miskin kalau pada tingkatan penghasilan dan kehidupan manapun ia hanya mengenal kata syukur, syukur dan syukur. Di tahapan-tahapan awal, syukur memang memerlukan pembanding, terutama pembanding yang lebih rendah. Akan tetapi, dalam pemahaman yang lebih mendalam, syukur adalah syukur. Ia tidak lagi memerlukan pembanding.

laut galilea dan laut mati

Di Palestina ada dua laut. Keduanya sangat berbeda.

Yang satu dinamakan Laut Galilea, yaitu sebuah danau yang luas dengan air
yang jernih dan bisa di minum. Ikan dan manusia berenang dalam laut
tersebut.

Danau itu juga dikelilingi oleh ladang dan kebun hijau, banyak orang
mendirikan rumah di sekitarnya.


Laut yang lain dinamakan Laut Mati, dan sungguh sesuai dgn namanya.

Segala sesuatu yg ada didalamnya mati. Airnya sungguh asin sehingga kita
bisa sakit jika meminumnya. Danau itu tidak ada ikannya dan tidak ada
sesuatupun yg sanggup tumbuh di tepiannya. Tak juga ada orang yg ingin
tinggal di sekitarnya, sebab baunya sangat tak sedap.


Jadi yang menarik tentang kedua laut itu adalah bahwa sungai yang mengalir
ke keduanya adalah satu sungai. Trus, apa yang membuatnya kemudian jadi
beda?

Bedanya, laut yang satu menerima dan memberi (Galilea), sedang laut lainnya
menerima dan menyimpannya saja (Laut mati).


Sungai Yordan mengalir ke Laut Galilea dan mengalir keluar dari dasar danau
itu. Danau tersebut memanfaatkan air sungai Yordan dan kemudian
meneruskannya kepada danau lain yg juga memanfaatkannya. Sungai Yordan
kemudian mengalir ke Laut Mati namun tdk pernah keluar lagi.


Laut Mati menyimpan air Sungai Yordan bagi dirinya sendiri.

Hal itulah yang membuatnya mati : hanya menerima dan tidak mau memberi.

cerita dari de mello

Sebuah kuil dibangun di suatu pulau, tiga kilometer jauhnya dari pantai.
Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng. Lonceng-lonceng yang besar,
lonceng-lonceng yang kecil, semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik
di dunia. Setiap kali angin bertiup atau taufan menderu, semua lonceng kuil
serentak berbunyi dan secara terpadu membangun sebuah simponi. Hati setiap
orang yang mendengarkannya terpesona.

Tetapi selama berabad-abad pulau itu tenggelam di dalam laut; demikian juga
kuil bersama dengan lonceng-loncengNya. Menurut cerita turun-temurun
lonceng-lonceng itu masih terus berbunyi. tanpa henti, dan dapat didengar
oleh setiap orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Tergerak oleh cerita ini, seorang pemuda menempuh perjalanan sejauh
beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk mendengarkan bunyi
lonceng-lonceng itu. Berhari-hari ia duduk di pantai, berhadapan dengan
tempat di mana kuil itu pernah berdiri, dan mendengarkan - mendengarkan
dengan penuh perhatian. Tetapi yang didengarnya hanyalah suara gelombang
laut yang memecah di tepi pantai. Ia berusaha mati-matian untuk menyisihkan
suara gelombang itu supaya dapat mendengar bunyi lonceng. Namun sia-sia.
Suara laut rupanya memenuhi alam raya.

Ia bertahan sampai berminggu-minggu. Ketika semangatnya mengendor, ia
mendengarkan orang tua-tua di kampung. Dengan terharu mereka menceritakan
kisah seribu lonceng dan kisah tentang mereka yang telah mendengarnya.
Dengan demikian ia semakin yakin bahwa kisah itu memang benar. Dan
semangatnya berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka ... tetapi
kemudian ia kecewa lagi, kalau usahanya selama berminggu-minggu ternyata
tidak menghasilkan apa-apa.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya. Barangkali ia tidak
ditakdirkan menjadi salah seorang yang beruntung dapat mendengar bunyi
lonceng-lonceng kuil itu. Mungkin juga legenda itu hanya omong kosong saja.
Lebih baik pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya.

Pada hari terakhir ia duduk di pantai pada tempat yang paling disayanginya.
Ia berpamitan kepada laut, langit, angin serta pohon-pohon kelapa. Ia
berbaring di atas pasir, memandang langit, mendengarkan suara laut. Pada
hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan
menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang
lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu
tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi.
Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.

Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya! Dentang bunyi satu lonceng
disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi ... dan
akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang
agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.

Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.

Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan dengan penuh perhatian.
Jangan menolaknya, jangan memikirkannya. Pandanglah saja. (Anthony de Melo)

Socrates, sang bijak

Pada jaman dahulu kala, ada seorang anak yang senang sekali belajar. Ia ingin memperoleh hikmat dan kebijaksanaan, lalu ia pergi ke orang yang paling bijaksana di kota itu, Socrates, untuk meminta nasihat.

Socrates sudah sangat tua dan memiliki pengetahuan yang sangat luas di samping terkenal karena kebijaksanaannya.

Anak itu lalu bertanya kepada Socrates bagaimana ia juga dapat memperoleh kebijaksanaan. Socrates yang terkenal jarang berbicara banyak, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan anak itu dengan kata-kata, tetapi dengan ilustrasi.

Ia membawa anak itu ke pantai dan dengan pakaian yang masih lengkap terus berjalan ke arah air sampai pakaiannya menjadi basah. Ia suka melakukan hal-hal yang membangkitkan rasa ingin tahu, terutama ketika ia sedang mencoba untuk membuktikan sesuatu. Anak itu dengan bersemangat mengikuti instruksi Socrates dan ikut berjalan ke arah laut sampai permukaan air mencapai dagu mereka. Tanpa berkata apa-apa, Socrates mengulurkan tangannya ke arah bahu anak itu.

Sambil memandang mata anak itu dengan tajam, tiba-tiba Socrates mendorong kepala anak itu ke bawah air dengan sekuat tenaga.

Anak itu meronta-ronta dan tepat sesaat sebelum anak itu kehabisan napas, Socrates melepaskan cengkeramannya. Anak itu segera keluar ke permukaan air dan mengambil napas sebanyak-banyaknya sambil terbatuk-batuk karena air laut yang asin, melihat ke sekeliling dengan marah mencari Socrates untuk meminta penjelasan atas perbuatannya.

Sedangkan anak itu sedang bingung, Socrates sudah menunggu dengan sabar di pinggir pantai. Ketika anak itu sampai di pinggir pantai, ia langsung berteriak, "Kenapa kamu mencoba membunuh saya?"

Socrates dengan tenang menjawab dengan pertanyaan:

"Anakku, ketika kamu sedang di bawah air dan tidak yakin apakah kamu masih bisa hidup lagi, apa yang kamu inginkan melebihi semua yang ada di dunia ini?"

Anak itu merenung sebentar lalu menjawab dengan pelan, "Saya hanya ingin bernapas."

Socrates tersenyum dengan lebar sambil menatap anak itu dan berkata,
"Ah! Saat kamu menginginkan hikmat dan kebijaksanaan sebegitu besarnya seperti kamu ingin bernapas, itulah saatnya dimana kamu akan segera mendapatkannya!"

cerita tentang kesombongan..

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.

Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.

Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

1 dan 0

Cobalah sebutkan angka terbesar yang kita ketahui, dan kalikanlah dengan angka Nol, kita akan mendapatkan hasil selalu Nol.

Cobalah sebutkan angka terkecil yang kita ketahui, dan bagilah dengan angka Nol, kita akan mendapatkan hasil Tidak Terhingga.

Sedang angka 1, berapapun angka yang kita sebutkan, dibagi ataupun dikali hasilnya selalu sama dengan bilangan itu sendiri.

Angka Nol adalah representasi dari KEIKHLASAN. KEIKHLASAN selalu membawa/ membuahkan KEBERKAHAN.

Angka Satu adalah representasi kebalikan dari KEIKHLASAN. Dan KETIDAK IKHLASAN tidak pernah membawa keberkahan.

Manusia dengan kehidupannya, pada awalnya dan masa kanak-kanaknya berada pada posisi angka Nol. Semakin dewasa, dengan segala pengalaman hidupnya dia akan bergerak naik turun ke arah 1 atau ke arah 0.

Orang yang mengikuti hawa nafsunya, akan semakin mendekati ke angka 1. Pada saat mencapai angka 1, dia akan menuhankan dirinya. Dia akan merasa bahwa dunia sudah digenggamnya dan itu atas usaha dan jerih payahnya.Tampak sekali kesombongan selalu muncul dari tingkah lakunya.

Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, dia akan bergerak ke arah Nol, menuju ke fitrahnya kembali. Orang seperti ini selalu rendah hati (bukan rendah diri), selalu tawadu, berserah diri dan bertawakal, baik pada saat diberi kelebihan maupun kekurangan.

Dari sisi rizki, orang yang berada pada angka 1, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka itulah uang yang diperolehnya, tidak lebih dan tidak kurang. Nilai keberkahannya adalah 1 juta rupiah dibagi 1 sama dengan 1 juta rupiah.

Orang yang berada pada angka 0, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka nilai keberkahannya adalah tak terhingga. Berapapun rizki yang diperoleh, dia mendapatkan rizki yang berkah tidak terhingga. Orang dengan angka Nol ini derajat keikhlasannya sudah tertinggi, sehingga berapapun yang diperoleh, selalu dapat mencukupi dirinya, bahkan mampu menolong orang lain.

Orang dengan angka 0 hanya terdapat pada para Nabi.

Semakin ikhlas seseorang, semakin mendekat ke arah 0. Misalnya 0.2, maka nilai keberkahannya adalah 1 Juta dibagi 0.2 = Rp 5.000.000,-

Sebaliknya, pada saat orang mendapatkan halangan dan cobaan. Orang-orang yang ikhlas, yang memiliki angka 0, berapapun bilangan halangan dan cobaannya, dikalikan dengan 0 akan sama dengan 0. Dia tidak pernah merasakan beban apapun terhadap halangan dan cobaan yang menimpanya.

Sedangkan pada orang yang berbilangan 1, dia akan merasakan sakit, stress dan bahkan sakit jiwa atau berputus asa, karena dia selalu merasakan gejolak jiwa sesuai dengan besar dan kecilnya cobaan.

Itulah Keikhlasan yang terkait dengan keberkahan. Keikhlasan adalah dari Hati, dan hanya hati kita sendiri dan Allah saja yang mengetahui.

Maka, seorang penjual es keliling yang menyumbangkan Rp2.000,- ke kotak Masjid secara ikhlas, sangat jauh nilainya di depan Allah dibanding dengan seorang Jutawan yang menyumbangkan uang Rp1 Juta ke kotak Masjid karena niat yang lain.

Untuk itu, setiap manusia perlu mengupayakan kembali/ mengarah ke titik Nol. Maka akan diperoleh ketenangan dan kecukupan yang telah dijanjikan Allah.

apa judulnya ya ?

Seorang pria terlambat pulang dari kantor, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.

“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”
‘Tentu, ada apa?”
“Ayah, berapa rupiah yang ayah peroleh dari kerja Ayah tiap jamnya?”
“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.
“Saya Cuma mau tahu. Tolong, beritahu saya, berapa rupiah Ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.
“Baiklah, kalau kau tetap inginmengetahuinya, Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya”
“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu rupiah?”
Si Ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan! Ayah berkerja keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”

Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si Ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.

Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang?
Sekitar sejam kemudian , ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang.
Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.

“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya
“Tidak Yah, aku terjaga,” jawab si anak.
“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras sama kamu,” kata si ayah.
“Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”
Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Ayah, terima kasih sekali”
Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.

Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.
“Kalau kau sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.
“Karena uang yang aku punya belum cukup, tapi sekarang sudah,” jawab si kecil
“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu, Boleh aku membeli waktu Ayah sekitar satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersama Ayah..”.