Hari Senin, tanggal 3 september 2007, saya bertugas ke Cirebon dalam rangka wisata ziarah, menuju makam salah seorang wali besar di pulau Jawa, yaitu Sunan Gunung Jati. Sudah lama saya berkeinginan melihat peristirahatan terakhir sang wali, karena saya selalu menikmati saat saat berada di tempat yang dapat mengingatkan saya akan kematian, dimana saya dapat melihat seluruh kilas balik dalam kehidupan saya, dapat melihat pelita dalam hati saya, disaat pelita tersebut meredup, karena hiruk pikuk permasalahan dunia yang terkadang membuat kita kehilangan kendali.
Saya menghormati Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di Indonesia, sebagai seorang pengelana dalam kehidupan, sebagai seorang wali bagi masyarakat jawa masa itu..
Saya tidak akan membahas mengenai sejarah kehidupan Sunan Gunung Jati maupun silsilah beliau karena hal itu sudah ada banyak tersebar di toko buku ataupun internet dan saya bukanlah seorang ahli sejarah.
Yang menjadi perhatian saya setiba disana, saya tidak dapat menemukan dan merasakan apa yang saya cari, tidak melihat kebesaran sang wali, karena sudah dikemas menjadi suatu objek, yang bertujuan menarik dana dari para pendatang. Makam sunan Gunung Jati sudah menjadi suatu tempat komersil, dimana "Shodaqoh", "Doa", sudah bukan hal yang indah lagi...
Saya melihat, banyak orang, dari anak kecil, remaja, dewasa, sampai kakek dan nenek, menjadi peminta shodaqoh, Kotak "amal" bertebaran dimana mana, yang apabila kita belum memasukan uang kedalam kotak tersebut, badan kita akan ditarik tarik oleh para peminta shodaqoh tersebut. Ada lagi hal komersil disana, yaitu pusar bumi, dan sumur ???, sejarah awalnya saya kurang tahu, hanya sekarang, telah menjadi suatu hal yang menggelikan dimana pusar bumi itu adalah suatu lahan tanah yang apabila tanah tersebut diambil dan ditaburkan di tanah rumah kita, maka rumah kita akan bernilai tinggi, sedangkan sumur ??? apabila diusapkan di wajah maka akan menjadi awet muda....
Dan, yang menjadi puncak keheranan saya adalah, bahwa makam Sunan Gunung Jati tersebut tidak boleh dilihat oleh sembarang orang, hanya boleh dilihat oleh orang tertentu, padahal saya pernah melihat makam Nabi Muhammad SAW dan tidak ada satu orangpun yang melarang, apakah Sunan Gunung Jati melebihi Rasulullah?
Saya menjadi berpikir...
kasihan Sunan Gunung Jati, ia menjadi dipenjara oleh orang orang yang memanfaatkannya setelah beliau wafat, makamnya menjadi objek wisata komersil, orang datang kesana dengan tujuan untuk berdoa, malah menjadi objek pemerasan berdalih shodaqoh...
Sebagian orang yang kesana pun patut dikasihani, mereka datang bukan untuk mempelajari, apa yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati, mempelajari kekayaan pengetahuan dan spiritual beliau. Mereka datang hanya untuk membeli kekayaan, kemuliaan, awet muda, dan banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan Sunan Gunung Jati. Tanpa mereka sadari mereka menuntut kepada beliau, bukan memberi. Sudah bukan lagi doa yang tulus...
Akan tetapi, segala sesuatu ada hikmahnya....
ada pelajaran dalam setiap detik kehidupan, yang terkadang kita lewati. Saya bercermin dari sebagian orang tersebut. Dalam Sembahyang, terkadang kita tidak tulus...kita selalu menuntut dari Tuhan, bukan suatu kesalahan apabila kita meminta kepada Tuhan, akan tetapi terkadang terkadang kita lupa untuk memberi kepadaNya, meskipun Ia tidak membutuhkan pemberian kita...Kita ingin terbebas dari api neraka tapi dalam doa kita, yang menjadi fokus kita adalah api neraka tersebut...bukan Sang Pencipta api neraka. Kita berdoa kepadaNya bukan karena rasa cinta terhadapNya, melainkan akibat takut akan api neraka.
Ahhh......
salam hormat untukmu Sunan Gunung Jati...
semoga semangatmu tidak hilang ditelan hiruk pikuk dunia..
hemm....
sebentar lagi puasa, ada satu makam lagi untuk dikunjungi..
Insya Allah, saya akan mengunjungi makam ayah di sukamiskin setelah sholat Jum'at
sama sekali ga ada hal komersil disana..hehehe....
yang ada hanya pemberian sukarela untuk perawatan makam keluarga...
Yang menjadi perhatian saya setiba disana, saya tidak dapat menemukan dan merasakan apa yang saya cari, tidak melihat kebesaran sang wali, karena sudah dikemas menjadi suatu objek, yang bertujuan menarik dana dari para pendatang. Makam sunan Gunung Jati sudah menjadi suatu tempat komersil, dimana "Shodaqoh", "Doa", sudah bukan hal yang indah lagi...
Saya melihat, banyak orang, dari anak kecil, remaja, dewasa, sampai kakek dan nenek, menjadi peminta shodaqoh, Kotak "amal" bertebaran dimana mana, yang apabila kita belum memasukan uang kedalam kotak tersebut, badan kita akan ditarik tarik oleh para peminta shodaqoh tersebut. Ada lagi hal komersil disana, yaitu pusar bumi, dan sumur ???, sejarah awalnya saya kurang tahu, hanya sekarang, telah menjadi suatu hal yang menggelikan dimana pusar bumi itu adalah suatu lahan tanah yang apabila tanah tersebut diambil dan ditaburkan di tanah rumah kita, maka rumah kita akan bernilai tinggi, sedangkan sumur ??? apabila diusapkan di wajah maka akan menjadi awet muda....
Dan, yang menjadi puncak keheranan saya adalah, bahwa makam Sunan Gunung Jati tersebut tidak boleh dilihat oleh sembarang orang, hanya boleh dilihat oleh orang tertentu, padahal saya pernah melihat makam Nabi Muhammad SAW dan tidak ada satu orangpun yang melarang, apakah Sunan Gunung Jati melebihi Rasulullah?
Saya menjadi berpikir...
kasihan Sunan Gunung Jati, ia menjadi dipenjara oleh orang orang yang memanfaatkannya setelah beliau wafat, makamnya menjadi objek wisata komersil, orang datang kesana dengan tujuan untuk berdoa, malah menjadi objek pemerasan berdalih shodaqoh...
Sebagian orang yang kesana pun patut dikasihani, mereka datang bukan untuk mempelajari, apa yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati, mempelajari kekayaan pengetahuan dan spiritual beliau. Mereka datang hanya untuk membeli kekayaan, kemuliaan, awet muda, dan banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan Sunan Gunung Jati. Tanpa mereka sadari mereka menuntut kepada beliau, bukan memberi. Sudah bukan lagi doa yang tulus...
Akan tetapi, segala sesuatu ada hikmahnya....
ada pelajaran dalam setiap detik kehidupan, yang terkadang kita lewati. Saya bercermin dari sebagian orang tersebut. Dalam Sembahyang, terkadang kita tidak tulus...kita selalu menuntut dari Tuhan, bukan suatu kesalahan apabila kita meminta kepada Tuhan, akan tetapi terkadang terkadang kita lupa untuk memberi kepadaNya, meskipun Ia tidak membutuhkan pemberian kita...Kita ingin terbebas dari api neraka tapi dalam doa kita, yang menjadi fokus kita adalah api neraka tersebut...bukan Sang Pencipta api neraka. Kita berdoa kepadaNya bukan karena rasa cinta terhadapNya, melainkan akibat takut akan api neraka.
Ahhh......
salam hormat untukmu Sunan Gunung Jati...
semoga semangatmu tidak hilang ditelan hiruk pikuk dunia..
hemm....
sebentar lagi puasa, ada satu makam lagi untuk dikunjungi..
Insya Allah, saya akan mengunjungi makam ayah di sukamiskin setelah sholat Jum'at
sama sekali ga ada hal komersil disana..hehehe....
yang ada hanya pemberian sukarela untuk perawatan makam keluarga...
No comments:
Post a Comment