Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Tuesday, November 06, 2007

hemmm.....

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap.

Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu.

Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.

Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

"Buk....!" Aah..., ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu.

Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

"Cittt...." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan.

Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele.

Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati.

Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.

Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

"Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!" Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.

"Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya.

"Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.

"Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.

"Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.

"Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti...."

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.

"Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku.

Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak.

Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.

"Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda?

Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya."

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.

Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.

Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah.

Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.

Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.

"Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak."

Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya.

Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.

Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu.

Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.

Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: "Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan.

Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.

Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita.

Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya.

Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Teman, kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.

Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

Tuesday, September 11, 2007

Menjelang Ramadhan.....

Hidup ini begitu singkat..
Waktu terus berlalu, kadang terasa cepat, kadang lambat sekali...
Tak terasa, masih diberi kesempatan dalam hidup untuk bertemu bulan Ramadhan lagi...
Banyak waktu dalam kehidupan ini, aku tak mensyukuri anugrahMu..
Aku telah terlena dalam dunia fana ini..
Aku kehilangan kepekaanku..
Aku tak bisa membaca petunjukMu...
Kehilangan kompas dalam lautan kehidupan..

Ya Allah...

Maafkan aku..
untuk semua dosa yang kulakukan..
terhadap diri sendiri, orang tua, ataupun orang lain...
terhadap semua orang yang kucinta, ataupun orang yang tidak kukenal...
baik yang masih ada maupun yang telah tiada...

Ya Allah...

Pernah Kau beri aku kebahagiaan, pernah pula Kau beri kepedihan..
Pernah Kau tempatkan aku ditempat yang tinggi, pernah pula kau jatuhkan aku hingga terhempas...
Kini aku mencoba merangkak bangun kembali.. menuju padaMu...

Ya Allah...

Berikanlah keselamatan, kebahagiaan, kedamaian abadi bagi seluruh mahluk ciptaanMu dipenjuru Jagat Raya ini...
Jangan biarkan lagi ada penderitaan yang sia sia dari mahlukMu...
Jangan ada lagi tangis kesedihan, jerit kelaparan, dan nafsu yang sia sia dari mahlukMu..
Hingga saat semuanya kembali padaMu..

Ya Allah....

Aku hanya manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan...
Aku mengharap surga, meskipun aku tak pantas berada disana..
Tapi jangan biarkan aku terbenam di Neraka..
baik Neraka Dunia ataupun Akhirat.....
Meskipun suka dan duka datang silih berganti...
Berikanlah aku kekuatan untuk menghadapinya......

Ya Allah....

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan dan tidak kau berikan padaku...
Karena itu adalah kehendakMu
Kebahagiaan, Kepedihan, semua yang terasa manis, asam, pahit dan getir........
Semoga di bulan Ramadhan ini, aku, mereka, dan seluruh mahluk di muka bumi ini mendapatkan hidayahMu...

Allah Maha Besar......






11 september 2007

Wednesday, September 05, 2007

Hilangnya keagungan sang wali...

Hari Senin, tanggal 3 september 2007, saya bertugas ke Cirebon dalam rangka wisata ziarah, menuju makam salah seorang wali besar di pulau Jawa, yaitu Sunan Gunung Jati. Sudah lama saya berkeinginan melihat peristirahatan terakhir sang wali, karena saya selalu menikmati saat saat berada di tempat yang dapat mengingatkan saya akan kematian, dimana saya dapat melihat seluruh kilas balik dalam kehidupan saya, dapat melihat pelita dalam hati saya, disaat pelita tersebut meredup, karena hiruk pikuk permasalahan dunia yang terkadang membuat kita kehilangan kendali.

Saya menghormati Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di Indonesia, sebagai seorang pengelana dalam kehidupan, sebagai seorang wali bagi masyarakat jawa masa itu..
Saya tidak akan membahas mengenai sejarah kehidupan Sunan Gunung Jati maupun silsilah beliau karena hal itu sudah ada banyak tersebar di toko buku ataupun internet dan saya bukanlah seorang ahli sejarah.

Yang menjadi perhatian saya setiba disana, saya tidak dapat menemukan dan merasakan apa yang saya cari, tidak melihat kebesaran sang wali, karena sudah dikemas menjadi suatu objek, yang bertujuan menarik dana dari para pendatang. Makam sunan Gunung Jati sudah menjadi suatu tempat komersil, dimana "Shodaqoh", "Doa", sudah bukan hal yang indah lagi...

Saya melihat, banyak orang, dari anak kecil, remaja, dewasa, sampai kakek dan nenek, menjadi peminta shodaqoh, Kotak "amal" bertebaran dimana mana, yang apabila kita belum memasukan uang kedalam kotak tersebut, badan kita akan ditarik tarik oleh para peminta shodaqoh tersebut. Ada lagi hal komersil disana, yaitu pusar bumi, dan sumur ???, sejarah awalnya saya kurang tahu, hanya sekarang, telah menjadi suatu hal yang menggelikan dimana pusar bumi itu adalah suatu lahan tanah yang apabila tanah tersebut diambil dan ditaburkan di tanah rumah kita, maka rumah kita akan bernilai tinggi, sedangkan sumur ??? apabila diusapkan di wajah maka akan menjadi awet muda....

Dan, yang menjadi puncak keheranan saya adalah, bahwa makam Sunan Gunung Jati tersebut tidak boleh dilihat oleh sembarang orang, hanya boleh dilihat oleh orang tertentu, padahal saya pernah melihat makam Nabi Muhammad SAW dan tidak ada satu orangpun yang melarang, apakah Sunan Gunung Jati melebihi Rasulullah?

Saya menjadi berpikir...
kasihan Sunan Gunung Jati, ia menjadi dipenjara oleh orang orang yang memanfaatkannya setelah beliau wafat, makamnya menjadi objek wisata komersil, orang datang kesana dengan tujuan untuk berdoa, malah menjadi objek pemerasan berdalih shodaqoh...

Sebagian orang yang kesana pun patut dikasihani, mereka datang bukan untuk mempelajari, apa yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati, mempelajari kekayaan pengetahuan dan spiritual beliau. Mereka datang hanya untuk membeli kekayaan, kemuliaan, awet muda, dan banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan Sunan Gunung Jati. Tanpa mereka sadari mereka menuntut kepada beliau, bukan memberi. Sudah bukan lagi doa yang tulus...

Akan tetapi, segala sesuatu ada hikmahnya....

ada pelajaran dalam setiap detik kehidupan, yang terkadang kita lewati. Saya bercermin dari sebagian orang tersebut. Dalam Sembahyang, terkadang kita tidak tulus...kita selalu menuntut dari Tuhan, bukan suatu kesalahan apabila kita meminta kepada Tuhan, akan tetapi terkadang terkadang kita lupa untuk memberi kepadaNya, meskipun Ia tidak membutuhkan pemberian kita...Kita ingin terbebas dari api neraka tapi dalam doa kita, yang menjadi fokus kita adalah api neraka tersebut...bukan Sang Pencipta api neraka. Kita berdoa kepadaNya bukan karena rasa cinta terhadapNya, melainkan akibat takut akan api neraka.

Ahhh......
salam hormat untukmu Sunan Gunung Jati...
semoga semangatmu tidak hilang ditelan hiruk pikuk dunia..

hemm....
sebentar lagi puasa, ada satu makam lagi untuk dikunjungi..
Insya Allah, saya akan mengunjungi makam ayah di sukamiskin setelah sholat Jum'at
sama sekali ga ada hal komersil disana..hehehe....
yang ada hanya pemberian sukarela untuk perawatan makam keluarga...








Friday, August 03, 2007

1996.......2006

1996
Waktu itu adalah masa dimana pikiran ini belum banyak terkontaminasi oleh virus Dunia..
Saya dalam perjalanan pulang dari Study Tour di Jogya , dan selama perjalanan pikiran saya tidak menentu, ada suatu perasaan aneh...dan setibanya di sekolah pada dini hari, saya dijemput oleh kakak dan sepupu saya....melihat ekspresi wajah mereka...saya tahu sesuatu telah terjadi, tetapi saya tidak berani bertanya. Dalam mobil, kakak berkata kepada saya untuk berdoa...saya ingin bertanya tapi mulut ini seperti terkunci...akhirnya kakak berkata, ayah mengalami kecelakaan di luar kota, tertabrak oleh truk semen dari belakang sewaktu mengendarai motor, jantung ini seperti lepas...

Dirumah Sakit saya melihat beliau terbaring lemah....dengan kondisi punggung dan kaki terlindas ban truk semen tersebut..pandangan saya menjadi gelap, dalam hati berjanji...akan menemukan supir truk semen tersebut, dan setan telah muncul dalam jiwa ini sehingga mendorong raga...dorongan untuk mencabut golok...saya tidak bercerita kepada siapapun tentang hal ini..hingga waktunya ayah siuman..

Beliau tersenyum melihat saya, seperti tidak merasakan sakitnya raga akibat kecelakaan itu..saya bertanya kepadanya, pah sakit ngga? ( pertanyaan bodoh ) beliau tidak menjawab...hanya terus tersenyum....
akhirnya saya berkata kepadanya...., pah, gua mau cari supir yang nabrak papah!!! ( emang cara ngomong saya ke babeh kaya gitu .....please forgive me dad...)

Akhirnya beliau berkata,
buat apa dicari....
Kasian, supir truk itu ga sengaja
kalau dicari, mungkin bakal dipenjara...
gimana anak istrinya kalo supir itu dipenjara?
Siapa yang cari makan buat mereka?

Hati saya luluh seketika.....mata ini menjadi panas, menahan airmata...kegelapan dalam hati hilang seketika oleh beberapa patah kata singkat dari Ayah yang dalam keadaan sakit, masih bisa tersenyum, bisa memberi petunjuk untuk anaknya......


2006

Saya telah bekerja di salah satu perusahaan swasta, waktu berlalu begitu cepat....Ayah telah meninggal pada tahun 2002 ditempat ia dirawat waktu kecelakaan terdahulu...

Dalam suatu urusan kantor, saya bertemu dengan salah satu rekan kerja ayah.. dan ia bercerita tentang ayah, tentang kecelakaan yang menimpa ayah tahun 1996.... bahwa pada tahun itu ia dan beberapa rekan ayah lainnya berusaha menemukan supir truk tersebut... dan mereka berhasil... lalu ia menghubungi ayah dirumah sakit, meminta saran, apa yang harus dilakukan terhadap supir truk tersebut...
Apa yang ayah lakukan sungguh diluar dugaan.... beliau menitipkan sejumlah uang untuk supir truk tersebut, dan meminta kepada para rekannya untuk jangan memperpanjang masalah tersebut...

Hati saya tersentuh....saya baru tahu tahun 2006 bahwa supir tersebut telah ditemukan pada tahun 1996...dan Ayah sama sekali tidak berbicara tentang hal itu pada saya.......hingga akhirnya saya tahu tentang hal tersebut dari rekan rekannya.

Kembali...terjadi flash back dalam pikiran saya ke masa lalu.........

Tuhan telah memberikan pelajaran kepada saya sebagai mahlukNya melalui mahlukNya yang lain....
Jangan mendendam, kasihi semua mahluk tanpa pamrih, terima keburukan dan kebaikan yang terjadi dengan senyuman...........